<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-10250864</id><updated>2011-04-21T20:55:21.395-07:00</updated><title type='text'>RUANG BACA - READING ROOM</title><subtitle type='html'>"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang 
menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan 
Tuhanmu yang teramat mulia. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan 
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." </subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ruangbaca.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10250864/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangbaca.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>aburashif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05923515274116876628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v244/aburashif/aang2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10250864.post-110621992874307051</id><published>2005-01-20T03:12:00.000-08:00</published><updated>2005-01-20T03:18:48.743-08:00</updated><title type='text'>Semi-Memoar Seorang Sastrawan Eksil  </title><content type='html'>&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v244/aburashif/SOBRON.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by aburashif&lt;br /&gt;(resensi buku Razia Agustus, Sobron Aidit) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya bisa ke Indonesia, kalau aku menanggalkan ke-Indonesia-anku.”, tulis Sobron Aidit pada sampul belakang buku kumpulan cerita pendeknya, Razia Agustus. Ironis. Namun pada kenyataannya, Sobron memang baru bisa mengunjungi Indonesia, justru ketika ia telah bertukar kewarganegaraan, dari sebagai warga negara Indonesia menjadi warga negara Prancis. Berpuluh-puluh tahun ia tinggal di negeri ‘kaum imigran’, yang penduduknya terdiri dari kalangan multi-ras itu. Disana, tepatnya di kota Paris, Sobron menempati sebuah apartemen sederhana bersama dua orang anaknya. Mengasuh dan membesarkan mereka tanpa didampingi oleh istri tercinta yang telah lama berpulang, pada masa-masa awal pelarian politiknya di Beijing, China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1982, atas bantuan beberapa orang rekan, Sobron mendirikan ‘Restoran Indonesia’. Berkat kesungguhannya mengelola bisnis rumah makan tersebut, restoran dengan letak strategis di salah satu sudut kota Paris itu selalu mengundang orang untuk sekedar singgah atau bersantap. Sudah barang tentu, penghasilan yang diraup dari usaha rumah makan itu, selain cukup buat menghidupi keluarga, dapat pula disisihkan sebagian untuk tabungan. Dan ketika simpanannya itu telah dirasakan cukup- Sobronpun telah resmi tercatat dalam Journal Officiel sebagai bukti pengesahannya menjadi warga negara Prancis-, pada tahun 1996, Sobron beserta Loulou, salah seorang cucunya, pergi berkunjung ke Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mula pertama kedatangannya di Pulau Belitung itu, tak seorangpun kerabat yang menawari untuk transit atau bermalam di rumahnya. Mereka hanya sempat bertandang ke hotel tempat Sobron dan cucunya menginap, bercakap-cakap sebentar, lalu kemudian kembali pulang. Konon, pada saat kedatangan Sobron berikutnya di tahun 2000, baru terbukalah semua hal-ihwal yang menjadi pertanyaan dalam hatinya, berkenaan dengan dinginnya penyambutan dari pihak kerabat pada kedatangannya yang pertama. Menurut cerita salah seorang keluarga dekatnya, pada kedatangan Sobron yang pertama itu, mereka selalu dikuntit dan dicurigai oleh pihak serdadu penguasa. Bahkan, Sobron mendengar ada salah satu kerabatnya yang dipanggil menghadap Danramil, ditanyai ini itu, sepulang dari pergi menemuinya di hotel tempat ia menginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan rezim orde baru dalam membatasi ruang gerak para tapol, mantan tapol, pelarian politik, teristimewa mereka yang dicap terlibat gestapu yang juga berimbas pada kalangan keluarga dekatnya, adalah salah satu titik pelanggaran HAM terberat yang pernah terjadi di Indonesia. Demi menunaikan kewajiban sebagai putra bangsa dan atas dorongan naluriahnya sebagai seorang penulis, Sobron tergerak untuk berbagi hikmah pengalamannya berkaitan dengan masa-masa pengekangan tersebut dengan banyak khalayak di Indonesia. Melalui Razia Agustus, kumpulan cerita pendek yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1992 oleh penerbit Stichting ISDM Culemborg di Eropa itu, Sobron bercerita tentang nasib para tapol dan keluarganya yang mengalami kekerasan fisik maupun sosial pasca Gestapu.  Selain itu, ia mengisahkan pula nasib para pelarian politik yang hengkang dari Indonesia dan kemudian menetap di negeri asing yang berkenan memberikan suaka politik. Penderitaan mereka menjadi lengkap, disaat mereka terpisah jauh dari segenap handai taulan dan terpaksa harus berjuang menghidupi diri dan keluarga di atas tanah tak dikenal, untuk menghindari Teror Putih kaum militeris Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Josip Novakovich, penulis buku Fiction Writer’s Workshop, pernah berujar bahwasanya sumber terbaik sebuah cerita fiksi adalah pengalaman. Kendati tak harus berasal dari pengalaman sendiri, namun pada faktanya, kebanyakan karya masterpiece ditulis berdasarkan referensi pengalaman pribadi pengarangnya. Sebut saja, trilogi Childhood, Boyhood, Youth-nya Leo Tolstoy yang menjadi tonggak awal popularitas sastrawan kenamaan Rusia tersebut, atau Cerita Dari Blora, kumpulan cerita pendek karya sastrawan terkemuka Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Kedua karya itu, setelah dicermati oleh banyak kritikus dan pengamat literatur, ternyata disarikan dari kenangan masa lampau yang meninggalkan kesan mendalam di lubuk hati para pengarangnya. Kesan mendalam seperti tampak dalam karya Leo Tolstoy atau Pramoedya Ananta Toer itulah yang tampaknya ikut pula mengilhami penulisan cerita-cerita dalam kumpulan Razia Agustus, yang baru bisa terealisasi penerbitannya di Indonesia pada awal tahun 2004. Suatu era dimana rezim Orde Baru - setidaknya oleh sebagian orang- dipandang sebagai sebuah bahaya laten.&lt;br /&gt;Dalam Razia Agustus, peristiwa Gestapu merupakan simpul pengikat pertautan antara satu cerita dengan cerita lainnya. Setting penghubung tersebut menjadikan setiap cerita dalam kumpulan ini tidak berdiri sendiri. Antara satu cerita dengan cerita lainnya terentang sebuah garis pertautan yang erat. Pertautan yang terbagi atas dua setting waktu, yaitu : masa pra-Gestapu dan masa setelah Gestapu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dengan setting waktu masa pra-Gestapu mengisahkan beragam kejadian yang berlangsung di seputar masa kanak-kanak sampai usia remaja sang “aku tokoh”. “Aku tokoh” sebagai pencerita, menuturkan sepak terjang kakak sulung dan ayah kandungnya disaat berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia (dalam cerita pendek berjudul “Bang Amat”, “Razia Agustus”,dan “Kaum Agustus”). Pada akhir cerita, kedua tokoh tersebut ternyata harus menemui nasib tragis : menjadi korban persekongkolan politik yang menciptakan intrik, ketika kedua tokoh tersebut dikenai vonis bersalah tanpa proses pengadilan dan kesempatan membela diri. Sang ayah akhirnya mati dalam keterasingan, sedangkan Bang Amat- tokoh imajiner yang identik dengan D.N.Aidit, kakak kandung Sobron sendiri-, sang kakak, dikabarkan tewas terbunuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerita-cerita lainnya yang berlatarkan masa setelah Gestapu, pengarang melalui “aku tokoh”-nya berupaya menuturkan kondisi keprihatinan yang menekan keluarga para tapol, selain ikut merekam kehidupan pelarian politik dari negeri-negeri lain di luar Indonesia yang berkumpul dalam satu komunitas bersama sang “aku tokoh”. Disamping menuturkan hasil pengamatannya, “aku tokoh” berupaya pula menyampaikan amanat penderitaannya sendiri sebagai salah satu pihak yang ikut menjadi korban. Dikarenakan kefasihan sang “aku tokoh” dalam tuturannya, maka tampaklah keidentikan pribadi “aku tokoh” dengan penulisnya, Sobron Aidit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak keterpaduan unsur fiksi dan fakta, tema-tema yang diusung, serta faktor pendeskripsian yang riil, kumpulan ini memiliki banyak kemiripan dengan novel Di Bawah Langit Tak Berbintang-nya Utuy Tatang Sontani, yang oleh pengarangnya sendiri disebut sebuah semi-memoar. Serupa dengan apa yang diperbuat Sobron ketika menggarap point of view seluruh cerita pendek yang termuat dalam kumpulan Razia Agustus ini, novel Utuy-pun menggunakan “aku tokoh” sebagai subjek sekaligus objek dalam penceritaan. Namun demikian, di luar kemiripan tema dan ide waktu penerbitannya, kumpulan Razia Agustus yang seluruh materinya dirampungkan di Paris ini, cenderung lebih lincah dalam bertutur serta lebih santun memilih bahasa dibandingkan Di Bawah Langit Tak Berbintang-nya Utuy, ataupun karya-karya lain yang mengangkat tema dan setting serupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan corak rata-rata karya sastrawan eksil ataupun karya-karya penulis eks-tapol yang seringkali terkesan murung dan begitu intens menggambarkan ketragisan nasib sang protagonis pada akhir lakon, maka dalam kumpulan Razia Agustus ini, Sobron justru berupaya menyisipkan ending yang manis di setiap akhir ceritanya. Dengan pendekatan tersebut, segi kearifan pribadi sang tokoh dalam menghadapi kondisi dan realitas buruk yang memang ingin ditonjolkan Sobron, dapat lebih mengemuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati terkesan halus, bukan berarti pesan-pesan moral yang ingin disampaikan Sobron melalui kumpulan Razia Agustus ini menjadi berkurang kadar kebernasannya. Dengan teknik penulisan yang ia kembangkan, pembaca mendapatkan ruang yang luas dan nyaman untuk berpikir jernih, agar sanggup memetik pelajaran dan memahami amanat yang terkandung dalam setiap cerita. Setidaknya setelah rampung menyimak kumpulan ini, dengan kelapangan dada kita mesti mengakui bahwasanya sebagian besar masyarakat kita, terutama mereka yang mapan secara ekonomi, masih jauh dari kepedulian atas nasib orang-orang yang dipaksa menanggung dosa sejarah itu. Sekurang-kurangnya dalam masa 30 tahun lebih, sebagian besar masyarakat kita tidak pernah berempati atau sigap menyadari bahwasanya di sekitar kita tengah terjadi pelanggaran terhadap hak-hak azasi manusia. Dan para penulis yang dianggap berhaluan kiri, khususnya para aktivis Lekra, menjadi salah satu bagian dari banyak golongan orang yang dipaksa menanggung beban penderitaan berat akibat tindak pelanggaran HAM tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir esainya yang bertajuk Peristiwa Manikebu : Kesusastraan Indonesia Dan Politik Nasional Tahun 1960-an dengan bahasan pokok polemik pertentangan antara seniman yang bersemboyan ‘seni untuk seni’ yang memposisikan diri sebagai seniman independen dengan para seniman yang bersemboyan ‘politik  sebagai panglima’ yang dinisbatkan berideologi kiri, Goenawan Mohamad berusaha menangkap fakta ketidak-adilan yang menimpa para sastrawan yang dianggap subversif itu dengan menulis : “Suasana totaliter menyingkir, tapi kecenderungan represif tidak. Dalam bentuk yang lebih keras, kini giliran para seniman Lekra yang dijadikan sasaran.”&lt;br /&gt;Sekarang, zaman telah berubah. Hak-hak politik para eks-PKI itu kini mulai dipulihkan. Sebagai bukti konkretnya adalah pencabutan larangan bagi mantan anggota PKI untuk menjadi calon legislatif. Prof. Deliar Noer, orang yang pernah menjadi korban pengganyangan PKI di masa-masa jayanya, bertindak sebagai pelopor dari penghapusan delik diskriminatif dalam Undang-undang Pemilu yang kemudian ditanggapi positif oleh Mahkamah Konstitusi tersebut. Sebuah reaksi yang sungguh ironik. Namun, itulah proses adil yang mesti ditempuh untuk membebaskan bangsa ini dari dendam kesumat yang berkepanjangan. Sehingga, jalinan kekerabatan yang diperlukan untuk membangun negeri ini ke arah tatanan yang demokratis bisa lebih bertaut erat. “Dendam kesumat tak akan menyelesaikan persoalan besar yang dihadapi bangsa ini.”ujar Prof. Deliar Noer, disaat mengakhiri penjelasan berkenaan dengan gagasannya itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 3 April 2004.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10250864-110621992874307051?l=ruangbaca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangbaca.blogspot.com/feeds/110621992874307051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10250864&amp;postID=110621992874307051' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10250864/posts/default/110621992874307051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10250864/posts/default/110621992874307051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangbaca.blogspot.com/2005/01/semi-memoar-seorang-sastrawan-eksil.html' title='Semi-Memoar Seorang Sastrawan Eksil  '/><author><name>aburashif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05923515274116876628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v244/aburashif/aang2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10250864.post-110613351962513951</id><published>2005-01-19T02:40:00.000-08:00</published><updated>2005-01-19T03:18:39.626-08:00</updated><title type='text'>Mengapa Harus Nanggroe ?</title><content type='html'>&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v288/ilyasa/ACEH.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by aburashif&lt;br /&gt;(ditulis ketika peristiwa Tsunami di Nanggroe dan Sumut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi, 26 Desember 2004, tsunami menyapu dataran Nanggroe Aceh Darussalam. Dihadapan televisi kita terpekur. Mata kita, mata anak bangsa yang perih. Perih menyaksikan tubuh anak-anak yang lahir dari rahim Cut Nyak, bergelimpangan di atas bumi sendiri. Dada kitapun sesak. Sebab teraba duka di hati Pa’Nek dan Ma’Nek yang belum lagi reda, kini sudah diterpa bencana lagi. Inilah puncak penderitaan saudara-saudari kita di bumi Nanggroe. Bumi yang dari rahimnya telah melahirkan syuhada-syuhada agung. Bumi yang telah membesarkan een-national heldenpaar (pasangan pahlawan nasional) Indonesia : Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien dari Meulaboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Franky Sahilatua menulis lagu “Duka Bangsa”, sebagai dedikasi atas terjadinya musibah besar ini. Ustadz Arifin Ilham dan para jemaahnya menangis sambil berdoa : “…semoga mereka yang pergi meraih ridha-Nya, memperoleh pengampunan-Nya.” Dan malam 27 Desember 2004 tadi, di studio Rajawali Citra Televisi, dering telepon dan faxcimile tak henti-hentinya mengirim ungkapan bela-sungkawa, ketika salah seorang ulama besar Indonesia, K.H. Abdullah Gymnastiar, mencoba menyusun kata-kata penghiburan dalam ucap terbata-bata. Indonesia berkabung. Mulai tanggal 27 hingga 30 Desember 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan hari berkabung nasional. Negeri ini sedang “menangis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karamnya kapal laut, jatuhnya pesawat terbang, bisa kita cari apa yang menjadi faktor penyebabnya. Teror bom, perang saudara, musibah kebakaran, adalah bencana yang bisa kita usut siapa dalangnya. Dengan paparan teliti, Z.A. Maulani mengira dana keuangan Barat telah membiayai gerakan insurgensi GAM di Aceh, untuk memanipulasi konflik domestik yang menyengsarakan rakyat Nanggroe. Setelah membaca tulisan mantan Kabakin yang dikumpulkan dalam sebuah buku (Zionisme : Gerakan Menaklukkan Dunia) itu, kita bisa cepat menyimpulkan : konspirasi Barat berperan banyak dalam konflik di Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, serapat apapun manusia, jejak-jejak perbuatannya masih meninggalkan jejak untuk dilacak. Tapi peristiwa bencana yang terjadi atas ketentuan-Nya, tentulah membutuhkan waktu, hati, dan pikiran yang jernih untuk menguak hikmah dibalik itu. Kita perlu mempelajari pengalaman serupa, membuka lembar demi lembar firman Allah, untuk menginsyafi apa pasal Allah menurunkan bencana alam di bumi Aceh, di bumi pertiwi, tempat kita berteduh dan berhandai antar sanak-saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh pada kisah-kisah mereka adalah pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang diada-adakan, tetapi membenarkan kitab terdahulu  dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Q.S. Yusuf : 111)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian firman Allah yang menyuruh kita mengkaji peristiwa yang terjadi pada masa-masa kenabian.  Kisah pengasingan Adam dan Hawa, pertarungan antara Daud dan Jalut, terbakarnya birahi Zulaikha oleh karena melihat kerupawanan Yusuf, kisah Ibrahim yang diperintahkan memenggal kepala putranya, Ismail, adalah sebagian kisah dari masa kenabian yang mengandung hikmah yang dalam. Selain kisah-kisah balada tersebut, Al-Qur’anpun mencantumkan peristiwa-peristiwa bencana besar, tentang kemusnahan suatu kaum, akibat kelalaian mereka dari mengingat Allah. “Maka mereka mendustakan Nuh , kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).”firman Allah dalam Al-Qur’an, Surat Al-A’raf, ayat 64, tentang hukuman yang ditimpakan-Nya kepada kaum yang lalai dari seruan Nabi Nuh a.s. “Kaum Luthpun telah mendustakan ancaman-ancaman ( Nabinya ). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka ), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing. Sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya dia ( Luth ) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu,”firman Allah dalam Al-Qur’an, surat Al-Qamar, ayat 33-36, tentang azab yang memusnahkan seisi kota Sodom dan Amurah. Kisah banjir Nuh, kisah terbaliknya dataran Sodom-Amurah itu, merupakan kisah pengazaban Allah terhadap sebuah kaum. Allah murka kepada seluruh kaum, karena mereka, nyaris seluruhnya, telah menyepelekan peringatan Allah yang disampaikan oleh para utusan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedzhaliman seorang penguasapun bisa mengundang kemurkaan Allah. “(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami Tenggelamkan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang dzhalim,” firman Allah dalam Al-Qur’an, surat Al-Anfal, ayat 54, tentang hukuman yang ditimpakan kepada Fir’aun, Pharaoh penguasa Mesir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman-firman diatas mengungkapkan kepada kita, bahwasanya bencana alam yang menimpa di jaman kenabian itu, disebabkan oleh kemurkaan Allah terhadap kemaksiatan yang dilakukan suatu kaum atau keangkuhan para pemimpinnya. Menyimak peringatan Allah tersebut, atas terjadinya bencana Alam di Nanggroe dan sebagian Sumatra Utara itu, rasa-rasanya kitapun perlu bertanya : adakah kemurkaan alam disebabkan oleh kedhaifan kita sebagai suatu kaum ?Adakah kemurkaan alam ditujukan sebagai peringatan untuk para pemimpin bangsa, yang menurut pandangan-Nya tidak sungguh-sungguh serius, menangani kejahilan dan kedzhaliman manusia yang kerap menyusahkan rakyat serambi Mekkah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam “Sejarah Kecil : Petite Histoire Indonesia”, Rosihan Anwar mengutip paparan Almarhum Prof. Dayan Dawood, tentang kondisi Aceh semenjak pasca-kemerdekaan. Gambaran Prof. Dayan Dawood tentang Aceh, salah satu pembicara dalam seminar : “Indonesia Pasca Pemilu : Bagaimana dengan Reformasi ?” yang diikuti Rosihan Anwar itu sungguh-sungguh memprihatinkan. Ia menceritakan betapa rakyat Aceh yang merindukan penerapan syari’at Islam, dikhianati oleh pemerintah pusat yang ketika itu dikepalai oleh Soekarno. Teuku Daud Beureuh memimpin perlawanan terhadap pemerintahan pusat selama 1950-1960, dikarenakan niat rakyat Aceh untuk memberlakukan syari’at Islam dihalang-halangi Presiden Soekarno. Budi rakyat Aceh yang telah rela menyumbang harta bendanya untuk dibelikan pesawat  kepresidenan RI-1 Seulawah itu, telah dibalas dengan “air tuba.” Keinginan menerapkan syari’at Islam disinyalir pemerintahan pusat sebagai langkah separatis. Maka, tidak hanya peluru pasukan Jenderal Van Heutsz saja yang tercatat pernah mengincar tubuh para patriot Aceh. Pejuang Aceh itu kemudian banyak menemui syahid, setelah diterjang peluru tentara republik, yang notabene adalah saudaranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Orde Baru, hasil pengolahan gas alam Arun yang dikelola Pertamina bersama America Mobil Oil, mengalir ke kas pemerintahan pusat, ditransfer ke bank-bank luar negeri. Alih-alih menikmati kekayaan alamnya, empat puluh persen rakyat Aceh dibiarkan termangu dalam kemiskinan. Gerakan Aceh Merdekapun lahir. Untuk menumpas gerakan separatis tersebut, pemerintah Orde Baru menerapkan kebijakan DOM (Daerah Operasi Militer). Lebih dari 800 orang tewas, dua puluh ribuan orang menjadi difabel, ribuan anak menjadi yatim-piatu, dan banyak saudari-saudari kita di sana terpaksa : melahirkan bayi hasil perkosaan ! Trauma DOM bersemayam terus di tanah rencong. Alhasil, pada era reformasi, personil TNI malah lebih ditakuti daripada pasukan GAM. Dan di era reformasi ini juga, para pelaku kejahatan perang di Aceh semasa DOM diberlakukan malah luput dari pengusutan. Tak ada usaha untuk menegakkan kebenaran dengan sungguh-sungguh, di bumi Nanggroe Aceh Darussalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca penderitaan rakyat Nanggroe yang tertanggung sekian lama itu, mendengar tragedi bencana alam yang menerpa kemarin minggu, kitapun sibuk menebak apa makna dibalik musibah nan dahsyat ini. Sesaat setelah tsunami melanda, televisi- radio-koran-situs internetpun terus memuat berbagai tanggapan yang berusaha menafsirkan makna dibalik bencana. Seorang ibu rumah tangga, seorang karyawati BUMN, seorang seniman, seorang ulama, hingga Presiden republik inipun berupaya menemukan ucap, menulis sekalimat penafsiran, agar terjawab tanya : mengapa harus Nanggroe ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu takkan pernah kita temukan dalam diskusi ramai atau sentimen perasaan sendiri. Jawaban itu takkan pernah kita temukan dalam gejala alam dan perputaran cuaca. Dalam raut anak-anak Cut Nyak yang “pergi”, dalam wajah yang tak tergenang rasa sakit atau nyeri itu, barulah kita bisa menemukan sedikit jawab, bahwasanya Allah telah mengangkat bocah-bocah suci itu menuju surga. Membebaskan mereka dari rasa takut akan desing peluru, rasa takut dari kematian Cut Nyak atau Pak Nyak-nya, karena peluru prajurit GAM atau pisau tentara. Dalam raut Pa’Nek-Ma’Nek yang terkubur di bawah reruntuhanpun kita akan menemukan sepenggal jawab. Bahwasanya, Allah telah membebaskan mereka dari kenakalan “anak-cucu”-nya yang senang berseteru. Menyelamatkan mereka dari tipuan orang luar pulau, orang-orang asing yang beramah-tamah, sebelum menghisap kekayaan buminya. Bencana ini bukanlah azab. Mungkin, Allah sudah tidak sabar untuk memeluk tubuh-tubuh suci, tubuh-tubuh renta itu, yang telah bersabar atas dera dari orang-orang yang berdalih : kita semua adalah saudara !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10250864-110613351962513951?l=ruangbaca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangbaca.blogspot.com/feeds/110613351962513951/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10250864&amp;postID=110613351962513951' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10250864/posts/default/110613351962513951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10250864/posts/default/110613351962513951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangbaca.blogspot.com/2005/01/mengapa-harus-nanggroe.html' title='Mengapa Harus Nanggroe ?'/><author><name>aburashif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05923515274116876628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v244/aburashif/aang2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10250864.post-110613022515880400</id><published>2005-01-19T02:19:00.000-08:00</published><updated>2005-01-19T02:23:45.160-08:00</updated><title type='text'>Film Tak Pernah Pergi</title><content type='html'>&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v288/ilyasa/ARISAN.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by aburashif&lt;br /&gt;(ditulis setelah FFI 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajang itu kembali digelar. Para undangan menghadap sebuah panggung terbuka, menikmati sepoian angin yang berhembus dari laut, seberang Pantai Ancol malam hari. Tamu-tamu istimewa malam itu adalah para pekerja dan pengamat film Indonesia. Orang-orang yang telah menunggu malam itu selama dua belas tahun lamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak tahun 1992, ketika suami-istri Jamal Mirdad dan Lidya Kandau berhasil menyandingkan Piala Citra, baru malam itu Festival Film Indonesia (FFI) digelar lagi. Tanpa karya Wim Umboh, Nyak Abbas Akup, atau film operet Sjumandjaja. Tanpa  Soekarno M. Noer, Benyamin Sueb, atau nama Teguh Karya tertera dalam kertas buku undangannya. Semenjak master of ceremony membuka acara dengan sejenak mengheningkan cipta, suasana rasa-rasanya memang berbeda dengan dua belas atau dua puluh tahun lampau.  Banyak yang berubah, pada malam anugerah Citra kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki muda berambut pendek, bertampang klimis, dipanggil untuk menghampiri panggung malam itu. Kembanglah senyumnya, ketika Citra untuk Pemeran Utama Pria Terbaik diserahkan kepadanya. Seorang wanita cantik, bersanggul modern, juga dipanggil ke atas panggung malam itu.  Senyumnya rekah, suaranya renyah, membilang “terima kasih”, setelah Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik disematkan kepadanya. Itulah kegembiraan yang sama, seperti yang pernah dirasakan seorang Rano Karno, Deddy Mizward, atau seorang Darussalam. Sebuah kegembiraan yang sama, seperti yang pernah dirasakan seorang Christine Hakim, Meriam Bellina, atau seorang Yenny Rachman. Tentu saja, kendati malamnya tak sama, kendatipun suasananya berbeda dari waktu-waktu terdahulu, kegembiraan yang mencuat masih kegembiraan yang itu-itu juga. Kegembiraan karena kerja keras telah membuahkan pentahbisan. Pentahbisan yang tak terukur oleh uang, penobatan yang hanya bisa diukur oleh kepuasan hati dan halus perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kerja keras dan kepuasan hati, para pemegang anugerah Citrapun seharusnya berkaca ke masa-masa sebelumnya. Masa kemarau panjang dua belas tahun, ketika para pengunjung bioskop Indonesia hanya berdecak mengagumi akting aktor yang tidak bercakap dalam bahasa sendiri. Masa-masa ketika bioskop dan televisi dipenuhi oleh wajah Eropa, Latin, atau India. Dalam hari-hari itu, anak-anak muda, konsumen utama tayangan televisi dan film bioskop, mulai beringsut dari kebudayaan negeri. Karena lebih banyak menatap ikon budaya asing yang dihembuskan lewat tayangan layar lebar dan layar kaca, anak-anak muda kita perlahan mencampakkan kepribadian diri. Mereka menjadi tak ubahnya seorang gemuk bercelana sempit, atau seorang kurus berkemeja gombrang. Itulah perumpamaan bagi generasi muda kita yang kehilangan watak dan kepantasan, sebab kehilangan kepribadian asli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jangka dua belas tahun ini, film Indonesia sesungguhnya tidak benar-benar mati. Beberapa film Indonesia masih diputar oleh bioskop-bioskop kelas bawah. Dengan judul birahi dan pose seronok yang berkibar diantara gelaran dagangan kaki lima, film-film picisan itu masih rutin dijenguk, kendati oleh sedikit penonton. Dan pada tahun 2004 ini, melihat data Associated Press : produser film lokal seronok itu boleh membanggakan kontribusi yang diberikannya. Berkat sinergisitas mereka dengan core "bisnis birahi" lainnya, kini, Indonesia menjadi surga pornografi terbesar nomor 2 di dunia !    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dampak negatif dari potensi tutorial sebuah film, Aa Gym, salah seorang ulama modern Indonesia, pernah memperingatkan pihak-pihak yang terlibat dalam peluncuran film berjudul provokatif : "Buruan Cium Gue !" Riuhnya suara yang pro terhadap klaim tersebut, segera ditimpali oleh teriak kontra yang tak kalah riuh. Aa Gym dan para pendukungnya ditengarai telah mencampuri urusan kreatifitas, dan merentangkan tali kekang yang jauh lebih menjerat dari Lembaga Sensor Film (LSF). Himbauan itu ditentang oleh sekumpulan orang yang mengklaim diri sebagai pejuang "kemerdekaan berpikir dan berkreasi". Sinyal kebenaran itu tak sungguh-sungguh ditangkap dengan akal jernih dan prasangka baik. Maka, menyusul "Buruan Cium Gue", film "Virgin" yang jauh lebih panas dari pendahulunya, diluncurkan Star Vision  pasca ramadhan tahun ini.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Dalam rentang sejarah perfilman Indonesia, larisnya sebuah film sebenarnya tidak ditentukan oleh muatan "birahi" semata. Dengan telaah yang teliti, kita akan menemukan bahwa belum ada film-film seronok yang melebihi kesuksesan "Tjoet Nyak Dhien" atau baru-baru ini, "Petualangan Sherina."  Estetika, tema cerita, penggarapan yang serius, nyata-nyata lebih menentukan ketimbang pengumbaran syahwat atau serunya adegan laga. Kesuksesan "Tjoet Nyak Dhien" dan "Petualangan Sherina" dalam raihan penonton, membuktikan asumsi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh di barat sana, film-film pengumbar birahi juga tidak identik dengan ukuran kesuksesan dalam jumlah penonton. "Forrest Gump" film yang bertemakan kehidupan seorang idiot, "Gladiator" film dengan setting sejarah Romawi, "Lord Of The Rings" film kolosal yang diangkat dari novel Profesor Tolkiens, terbukti lebih diminati daripada film percintaan remaja atau film laga yang mencuatkan efek teknologi. Dalam ajang Piala Oscar ke-3 film tersebut juga mampu menyabet berbagai kategori, selain kategori bergengsi : The Best Picture. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Oscar mengajarkan kepada kita, bahwa apresiator dan pengamat film barat lebih menghargai film-film dengan tema sosial atau kemanusiaan, daripada film-film yang menampilkan realita kekerasan atau penyimpangan seksual. Dalam perebutan Oscar tahun  1994, "Forrest Gump" menumbangkan "Pulp Fiction"-nya Quentin Tarantino, sebuah film yang mengambil tema psikopatik dan kekerasan seksual. Dan pada tahun 2001, "Beautiful Mind" berhasil menyisihkan "Moulin Rogue", sebuah film dengan setting rumah pelacuran di era "wild-wild west." Lantas, darimana  produser kita mengambil referensi, sebenarnya ?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai tahun 2000, ditandai dengan kiprah sutradara muda Riri Riza dengan filmnya “Petualangan Sherina”, dunia perfilman Indonesia berangsur meninggalkan kecenderungan buruknya. Karya-karya serius mulai bermunculan. Poster film Indonesia dapat berkibar di bioskop-bioskop papan atas.  Produser dan sutradara muda lainnya,  Aria Kusumadewa, menjadi panutan para peminat film independen.  Bak gerilyawan, film-filmnya yang mengangkat tema tak lazim, ditonton, didiskusikan, mulai dari kampus hingga komunitas-komunitas seni. Festival Film Independen, yang diikuti oleh ribuan judul film produksi mandiri sineas-sineas pemula, rutin diselenggarakan setiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengisi era krisis tersebut, Garin Nugroho, sutradara dan produser garda depan Indonesia, menorehkan prestasi gemilang  di berbagai event penghargaan internasional. "Cinta Dalam Sepotong Roti", "Bulan Tertusuk Ilalang", "Dongeng Kancil Tentang Kemerdekaan", dan beberapa film lainnya berhasil mengekspos kehidupan dan panorama Indonesia di luar negeri.  Berkat kerja kreatifnya itu, wajah film Indonesia masih bisa eksis dihadapan pemirsa dunia. Sineas garda depan yang tumbuh sendiri diantara kecenderungan buruk dan kelesuan perfilman Indonesia ini, menjelang digelarnya FFI 2004, menghembuskan angin segar lagi lewat karya karya emosionalnya : "Rindu Kami Pada-Mu."  Film tersebut menuai pujian dari para pengamat, cendekiawan, serta para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data-data tersebut, rentang penantian itu, menunjukkan kepada kita bahwa penyangga kehormatan film Indonesia bukanlah film-film asal jadi. Bukan film-film yang menstimulus nafsu birahi, atau film sarat adegan laga yang menonjolkan kekerasan. FFI 2004 terselenggara karena mutu-mutu film Indonesia pada periode belakangan menunjukkan skala membaik. Rudy Soedjarwo, Dian Sastrowardoyo, Tora Soediro, Nia Dinata, Riri Riza, dan generasi baru perfilman Indonesia yang ditahbiskan sabtu lalu, pasti menyadari betul hal itu. Anugerah Citra yang mereka terima adalah sebuah reward atas pengabdian. Namun begitu, ini hanyalah sekedar sebuah awal. Pengabdian mereka masih perlu dibuktikan pada waktu-waktu mendatang.  Karena mereka telah ditahbiskan sebagai para pengabdi, hendaknya mereka menyadari bahwa karya-karya berikutnya haruslah memuat pesan-pesan tuntunan. Tuntunan apa ? Tentu saja tuntunan kebudayaan.  Realita itulah yang sangat prioritas sekarang ini, mengingat penyakit masyarakat kita berpangkal dari keruntuhan moral dan kemiskinan akan budaya. Film sebagai benda budaya menentukan ke arah mana suatu masyarakat hendak bergerak. Potensi tutorialnya mesti dikelola dengan kerja kreatif, kerja intuitif, dan sikap optimisme, agar mampu mengedukasi dan mengilhami masyarakat supaya membangun tatanan kehidupan ke arah lebih baik. Hanya dengan kesungguhan itulah sebuah film tak akan pernah pergi. Dari ingatan pemirsa, pekerjanya, dan ingatan dunia. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10250864-110613022515880400?l=ruangbaca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangbaca.blogspot.com/feeds/110613022515880400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10250864&amp;postID=110613022515880400' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10250864/posts/default/110613022515880400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10250864/posts/default/110613022515880400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangbaca.blogspot.com/2005/01/film-tak-pernah-pergi.html' title='Film Tak Pernah Pergi'/><author><name>aburashif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05923515274116876628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v244/aburashif/aang2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10250864.post-110612972313897129</id><published>2005-01-19T02:11:00.000-08:00</published><updated>2005-01-19T02:15:23.136-08:00</updated><title type='text'>Kisah Burung-burung Besi</title><content type='html'>&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v288/ilyasa/PEARLHARBOR.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by aburashif&lt;br /&gt;(ditulis untuk memperingati serangan Pearl Harbor)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Burung-burung besi” itu berangkat, ketika waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi. 200 mil dari Pearl Harbor, pesawat tempur dan pembom Jepang, "Kates-Val-Zero", bergerak menuju sasaran. Pagi itu bayangan “burung-burung besi” yang bergerak, memenuhi permukaan Samudra Pasifik. Laut sepi menyimpan dingin. Sebeku wajah Fuchida, Murata, dan Takahashi. Merekalah tiga perwira penerbang Dai Nippon. Utusan maut yang akan membumi-hanguskan Pearl Harbor, pelabuhan AS di Pasifik, yang malam sebelumnya diliputi pesta pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu menunjukkan pukul delapan kurang lima menit, ketika Laksamana Muda William R. Furlong menangkap sebentuk pesawat mencuat dari perbukitan utara Pearl Harbor. Sebuah bom lalu meletup diantara armada kapal. Sebelum bendera “Roger” dikerek, "Kates-Val-Zero" telah memuntahkan kemarahannya dimana-mana. "West Virginia" dan "Oklahoma" tenggelam. Disusul oleh "Tangier", "Utah", "Raleigh", dan "Detroit." Armada kapal AS wilayah pasifik itupun remuk redam. 2400 awak pertahanan meregang nyawa di atas pasir halus, atau mengambang ringan di atas permukaan laut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 7 Desember 1941, pukul 09.45, armada AS di Pearl Harbor berhasil dilumpuhkan. "Kates-Val-Zero", pesawat tempur dan pembom Dai Nippon itu kembali menuju Jepang dengan membawa kemenangan.  Isokuru Yamamoto-arsitek penyerangan Pearl Harbor- mempersembahkan kemenangan besarnya untuk Tenno Heika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum serangan sporadis terhadap Pearl Harbor, pada 1 September 1939, tiga sosok “burung besi” menyelinap dalam kegelapan kota Vistula. Dinihari itu, tiga buah Stuka – Sturzkampfflugzeuge, pesawat pembom tukik milik Luftwaffe (AU Jerman)- dengan bom dan “peluit kematian”-nya, merobohkan Jembatan Dischau yang masih berselimutkan kabut putih. Ketika sinar matahari memancar dari timur,  “burung-burung besi” itu telah tiba di Warsawa, ibukota Polandia. Jerit “peluit kematian” kemudian memenuhi angkasa. Mengiringi debum bom-bom SC 250 meluluh-lantakkan pangkalan Putzig, Krakow, dan Lemburg, yang hanya terkesima menyaksikan kedahsyatan "Blitzkrieg", serangan kilat pasukan Jerman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polandia jatuh 10 hari kemudian. Divisi-divisi tempur mereka berhasil ditaklukkan oleh serdadu-serdadu Jerman. Dalam tempo 10 hari, Stuka telah menjadi monster yang sangat ditakuti. “Blitzkrieg”, serangan kilat Stukagruppen, telah menciutkan nyali pemimpin-pemimpin Eropa. Lengking “peluit kematian”, terompet Jericho yang dipasang oleh para penerbang Jerman pada roda batang utama Stuka, samara-samar berdesing di setiap telinga pemimpin negara-negara Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa memukau atraksi "burung-burung besi" itu di udara. Christian Bale, bintang cilik Inggris, memerankan dengan sempurna sosok seorang bocah yang terkagum-kagum akan atraksi "burung-burung besi" itu dalam Empire Of The Sun. Ribuan anak, jutaan bocah di dunia, kemungkinan memiliki kekaguman serupa dengan keterkaguman tokoh anak hilang yang diperankan Bale. Atraksi "burung-burung besi" itu mereka tiru dengan cara meliuk-liukkan replika pesawat kayu, dengan mulut menirukan dengungan terompet Jericho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekaguman bocah-bocah itu, atau kekaguman kita selagi bocah, tanpa sadar merupakan bentuk kekaguman akan sebuah aksi mesin pembunuh. Bagi kita atau mereka yang tidak pernah mengalami situasi perang, teristimewa suasana serangan udara, mungkin menganggap aksi pesawat tempur itu sebagai hal biasa. Siapa yang tak berdecak menyaksikan ratusan "burung besi" terbang lalu meliuk rendah di atas kepala ? Siapa yang tak terpukau menyaksikan manuver "burung besi" itu memuntahkan bom tukik, hingga berdebum di atas bumi ? Tentu, dengan enteng kita mengagumi. Duduk rapi depan Home Video. Berdecak sambil menyaksikan : dahsyatnya pertempuran udara dalam film "Tora ! Tora ! Tora !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang bukan anak pantai Honolulu yang bersiap memetik kelapa, ketika pesawat tempur Zero memuntahkan peluru kanon dari moncong mitraliurnya, pagi hari 7 Desember 1941. Kita juga bukan bocah Warsawa yang menggigil di lubang perlindungan, ketika ratusan pesawat Stuka membombardir ibukota Polandia, 1 September 1939.  Sebagian besar kita yang hidup sekarang, bukan pelaku figuran atau pelaku utama dalam peristiwa-peristiwa memiriskan yang mengawali Perang Dunia II di Asia dan Eropa itu.  Tapi, apakah bunyi desing atau teriak kesakitan dari mangsa "burung-burung besi" itu tidak pernah lekat di hati dan telinga dunia ? Sehingga, pesawat tempur masih terus dimodifikasi demi efisiensi dan efektifitas operasi militer sampai saat ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saja Allah menakdirkan kita hidup di tahun 1939 atau 1941. Andai anak pantai Honolulu itu adalah diri kita, dan bocah Warsawa itu adalah buah hati kita sendiri. Tentu kita tak akan pernah mengagumi atraksi"burung-burung besi" pembunuh itu. "Kisah burung-burung besi" itu akan menjadi cerita duka yang selalu ingin kita kubur dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, begitulah ingatan. Begitulah sekat ruang dan waktu. Semakin jauh jaraknya, semakin lenyap rasa empati kita terhadap kejadian yang berlangsung di kurun yang telah lalu. Ingatan manusia yang terbatas, umur manusia yang terpilah dalam pendek usia, membuat sejarah atau kisah menjadi tidak mudah menelurkan hikmah. "Kisah Burung-burung Besi" masih dikenang sebagai cerita penerbangan heroik, atau kisah manuver udara yang mencengangkan. Jarang orang-orang mengenang, atau sekedar meyakini "Kisah Burung-burung besi" itu sebagai : kisah burung pemangsa manusia yang melumatkan harmoni kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10250864-110612972313897129?l=ruangbaca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangbaca.blogspot.com/feeds/110612972313897129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10250864&amp;postID=110612972313897129' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10250864/posts/default/110612972313897129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10250864/posts/default/110612972313897129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangbaca.blogspot.com/2005/01/kisah-burung-burung-besi.html' title='Kisah Burung-burung Besi'/><author><name>aburashif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05923515274116876628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v244/aburashif/aang2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10250864.post-110612925191678608</id><published>2005-01-19T01:50:00.000-08:00</published><updated>2005-01-19T02:07:31.916-08:00</updated><title type='text'>Seremoni 1/2 Hati</title><content type='html'>&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v288/ilyasa/DISABLED.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by aburashif&lt;br /&gt;(dibuat dalam rangka UN International Day For Disabled Person 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steveland Hardaway Judkins, hanya tahu bahwa langit itu biru tanpa mengetahui seperti apa "biru" itu. Ia hanya tahu bahwa langit itu biru dari lantunan suara Louis Armstrong : "I see skies of blue/ and clouds of white/ the bright blessed day/ dark sacred night." Setiap lagu "What A Wonderful World" yang ditulis oleh duet komposer Jazz kenamaan George Weiss dan Bob Thiele itu mengalun, setiap itu pula Steveland kecil bertanya dalam hati, "Seperti apa sesungguhnya biru langit dan awan kapas itu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kecil Steveland tak pernah tahu seperti apa bentuk langit yang disebut-sebut dalam lagu kegemarannya. Ia hanya bisa menduga, hingga menerjemahkan "biru langit" itu dalam lagu yang kemudian ia tulis dan ia nyanyikan sendiri : I Just Called To Say I Love U.  Lagu legendaris, yang ia persembahkan khusus untuk tokoh pejuang Afrika Selatan, Nelson Rolihlahla Mandela. Nelson, yang waktu itu masih mendekam dalam penjara, akan selalu ingat, hari ketika pemuda yang populer dengan panggilan Stevie Wonder itu mempersembahkan lagu yang ditulisnya. Pipinya yang keriput berlipur air mata, ketika itu. Wajah tuanya tengadah, menatap langit yang menaungi Robben Island. Dari pulau tempat pembuangannya, lewat lagu persembahan pemuda tuna netra berjulukan "anak ajaib" itu, Nelson merayakan hari ulang tahunnya sambil meresapi terangnya langit Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi masih dini di Milan, Ohio, ketika seorang remaja 15 tahun menjajakan The Grand Trunk Herald, koran yang ditulis, dicetak, dijajakannya sendiri dalam gerbong kereta uap. Sejak usia 12 tahun, remaja belia itu sudah kerap berjualan di situ. Kepada para penumpang atau pegawai kereta yang baru merapat di stasiun kota, ia tawarkan permen, buah, atau koran terbitan terbaru. Naas hari itu. Seorang kondektur yang merasa tak nyaman oleh kehadirannya, menampar wajahnya hingga berderak. Karena pukulan telak itu, kelak anak muda penjaja koran itu harus menanggung cacat pendengaran seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondektur pemberang itu pasti tak akan pernah menyangka, bahwa remaja kurus yang dipukulnya kelak dikenal oleh anak dan cucunya sebagai ilmuwan paling brilian selama millenium ini. Dalam rentang usianya yang panjang (84 tahun), remaja bernama lengkap Thomas Alva Edison itu telah mengantungi lebih dari 1000 hak paten atas penemuan-penemuannya. Ia tidak hanya dianggap berjasa oleh anak atau cucu kondektur pemberang yang tinggal di kota negara bagian Ohio. Anak-anak atau cucu-cucu dari kondektur kereta di seluruh dunia, seluruh umat manusia yang berdiam di muka bumi, berhutang jasa kepada lelaki yang semasa muda dianggap orang-orang dekatnya sebagai pemimpi itu. Setiap orang memandangi bola lampu, mendengar musik dari gramofon, disitu terletak jasa lelaki yang dibuatnya cacat seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seorang seniman tuna netra, ilmuwan tuna rungu, marilah kita memandang dekat ke waktu yang baru lewat : senin, 22 maret 2004, ketika asap mengepul di langit kota Gaza. Ketika itu, para pemirsa siaran nasional Palestina, dikejutkan oleh berita syahidnya Syekh Ahmad Yassin. Pemimpin Hamas yang memimpin ribuan pasukan berani matinya dari kursi roda, menemui syahid karena serangan maut helikopter Israel. Ribuan warga Palestina berhamburan ke jalan-jalan utama kota Gaza. Mereka berbondong-bondong pergi menuju El-Shifa Hospital, rumah sakit pemerintahan di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah sakit El-Shifa, para pelayat menemukan jasad Imam tercintanya telah terbujur kaku. Tak ada lagi khatib kharismatik yang pernah menyeru mereka setiap majelis Jum'at. Tak ada lagi pemimpin perjuangan yang kukuh berani walau ditimpa kelumpuhan. Syekh Ahmad Yassin, pemimpin yang terus membela dan menyemangati mereka untuk melakukan gerakan intifadhah, sejak hari itu bergelar Asy-Syahidusy Syuhada.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang seniman tuna netra, seorang ilmuwan tuna rungu, seorang pejuang tuna daksa telah menunjukkan bahwa ketidak-sempurnaan fisik bukan halangan bagi seseorang untuk memaknai kehidupannya. Makna kehidupan bagi mereka adalah memberi, meski persembahan mereka terkadang tidak bisa dinikmati dengan sempurna secara fisik, oleh diri mereka sendiri. Edison tak pernah tahu betapa nikmatnya mendengar alunan lagu dari gramofon. Stevie Wonder tak pernah tahu betapa indah langit yang sedang diresapi Nelson Mandela. Dan Syekh Ahmad Yassinpun tak pernah berpikir, bahwa perjuangannya kelak hanya akan membuat mereka yang berfisik sempurna leluasa menikmati hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal kita bertanya sekarang : apakah diri kita yang sempurna secara fisik, telah memberi lebih banyak daripada seorang Stevie Wonder, seorang Thomas Alva Edison, seorang Syekh Ahmad Yassin, atau banyak lagi nama kalangan difabel yang telah menyumbangkan karya untuk dunia ? Apakah bangsa barat dan bangsa timur sudah betul-betul bisa menghargai jasa orang-orang yang secara fisik tidak sempurna ? Ketika NUPGE, sebuah organisasi penyandang cacat yang berpusat di Kanada memberikan penghargaan kepada John Rae, aktivis penyandang cacat, dalam rangka International Day Of Disabled Person, 3 Desember 2004, ternyata kita belum menemukan jawaban yang memuaskan.  Difabel Person masih menjadi prioritas ke sekian dalam program-program kemajuan atau pengembangan bidang apapun,di barat maupun di timur. Di barat, fasilitas umum memang dirancang dengan pertimbangan kemudahan aksesibilitas bagi penyandang cacat. Apakah itu menunjukkan kepedulian terhadap para difabel person ? Jawabnya bisa ya, bisa juga tidak. Ya, karena para difabel person di negara-negara barat memang memiliki aksesibilitas yang lebih terhadap fasilitas umum, daripada rekan-rekannya di timur. Tidak, karena negara-negara terkemuka barat tetap masih mendukung “proses pencacatan manusia” yang berlangsung di Irak, Palestina, dan beberapa waktu lalu terjadi di Afghanistan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara-negara timur, yang berdasarkan survey WHO dihuni oleh 400 juta jiwa penyandang cacat, aksesibilitas terhadap fasilitas umum merupakan sesuatu yang mahal bagi para difabel person. Di Indonesia, banyak gedung pemerintahan tidak memiliki lift, sehingga mereka yang menggunakan kursi roda harus berjibaku untuk sampai ke tingkat dua, tiga, atau tingkat seterusnya. Bangunan yang sudah dilengkapi liftpun masih mengesampingkan petunjuk suara, sehingga menyulitkan para tuna netra. Jangankan lift atau fasilitas suara, terkadang ramp atau jalan landai untuk kursi rodapun tidak tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kenyataan yang terjadi saat ini. Kita hanya bisa terkagum atau dengan entengnya menikmati karya-karya dari saudara-saudara kita yang menyandang cacat fisik. Orang-orang yang sejak lahirnya difabel, mereka yang harus menanggung cacat fisik karena insiden atau faktor medik, masih terus diabaikan. Structure Adjustment Program’s (SAPs), yang mensyaratkan negara-negara dunia ketiga penanggung hutang untuk mengurangi anggaran pelayanan kesehatannya, turut menyokong aksi ketidak-pedulian itu. Di berbagai belahan duniapun, kerusuhan dan huru-hara dirancang sempurna oleh negara-negara maju. Orang-orang sengaja dicacatkan melalui program teror dan perang berkepanjangan. Lalu, apa makna UN International Day For Disabled Person ? Momen penghargaan terhadap kemanusiaankah ? Atau, sekedar seremoni setengah hati ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10250864-110612925191678608?l=ruangbaca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangbaca.blogspot.com/feeds/110612925191678608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10250864&amp;postID=110612925191678608' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10250864/posts/default/110612925191678608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10250864/posts/default/110612925191678608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangbaca.blogspot.com/2005/01/seremoni-12-hati.html' title='Seremoni 1/2 Hati'/><author><name>aburashif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05923515274116876628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v244/aburashif/aang2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10250864.post-110612811759832283</id><published>2005-01-19T01:38:00.000-08:00</published><updated>2005-01-19T01:48:37.600-08:00</updated><title type='text'>Hanya Memandang Laut Mati 	</title><content type='html'>&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v288/ilyasa/AIDS.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by aburashif&lt;br /&gt;(ditulis dalam rangka Hari AIDS sedunia 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini dunia akan mengenang Rudolf Nureyef. Pada hari ini duniapun akan mengenang seorang afro-amerika, Arthur Robert Ashe. Beberapa orang akan berkumpul mengheningkan cipta di depan Hall tempat The Paris Opera Balet biasa berlatih, mementaskan drama-drama tariannya. Dan nun jauh di kota Richmond, Virginia, seorang pelatih tenis akan bercerita di hadapan murid-muridnya, tentang ketangguhan seorang pemuda negro, yang telah mendedikasikan seluruh gelar yang pernah ia raih, bagi kaumnya yang tertindas di berbagai belahan dunia.  Orang akan mengingat Rudolf Nureyev sebagai sutradara opera balet paling brilian pada tahun 80-an. Dan orang akan mengingat Arthur Ashe sebagai seorang afro-amerika pertama yang pernah menjuarai Wimbledon dan U.S. Open, sekaligus pria kulit hitam pertama yang pernah menjadi anggota tim Davis Cup Amerika. Namun, selain mengenang kiprah mereka yang mencengangkan, orang-orang akan mengenang pula detik kepergian mereka yang tragis, karena keganasan virus HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia boleh mengingat. Siapa saja boleh mengenang Rudolf Nureyev, Arthur Ashe, Freddy Mercury, atau Rock Hudson. Namun, selain mengenangkan mereka yang telah pergi karena keganasan penyakit AIDS itu, kita perlu menarik jauh ingatan kita ke satu jaman di awal masehi. Jaman ketika kaum ‘Aad hidup berlimpah kemuliaan di daerah Jordan, tepatnya di kota Sodom dan Amurah. Di daerah tersebutlah Allah mengutus Jibril kepada Nabi Luth a.s., supaya menyeru kaum ‘Aad, agar bersujud kepada-Nya : “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?"( Q.S. 7:81). Kaum ‘Aad yang seharusnya bersyukur atas segala kemudahan hidup itu, malah berpaling dari peringatan Allah. Diri tenggelam dalam kesukaan harta benda. Jiwa terikat oleh memperturutkan hawa nafsu. Dan dosa yang paling “istimewa” : kebiasaan lesbian dan homoseksual, menjadi ciri kebobrokan yang paling khas dari kebejatan kaum ‘Aad ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih menanggalkan perbuatan terkutuknya, kaum ‘Aad kemudian malah mengusir Nabi Luth dari dataran Jordan. “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.” umpat kaum ‘Aad, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an (Q.S. 7:82). Nabi Luth dan sedikit dari mereka yang mengikutinya, bergegas pergi meninggalkan Sodom dan Amurah. Kemudian Allah menimpakan azabnya dari atas langit Sodom dan Amurah. “Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.”(Q.S. 7:84), demikian Al-Qur’an melukiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang telah pergi mengunjungi Laut Mati.  Daerah bekas tragedi Sodom-Gomora itu didatangi oleh para pelancong, peziarah dari seluruh penjuru dunia. Rudolf Dureyev, Arthur Ashe, Freddy Mercury, atau Rock Hudson mungkin juga pernah pergi ke sana. Mengapa tidak ? Mereka adalah pesohor yang pasti cukup uang untuk “sekedar” melawat ke daerah Jordan. Seandainya mereka tak pernah pergi ke sana, pastinya mereka pernah mendengar tentang tragedi yang menimpa dua kota terkutuk itu dari kitab suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, bukan hanya di langit Sodom-Amurah, atau di atas kawasan Jordan saja, sosok kutukan itu tengah berdiri mengangkang. Pada tanggal 1 Desember ini, ketika AIDS diperingati sebagai momok di seantero dunia, kutukan itupun tengah mengancam seluruh bangsa yang berdiam di muka bumi. Berdasarkan data yang ada pada UNAIDS, 37, 5 juta orang dewasa, 2,2 juta anak dibawah umur, terjangkiti virus HIV. Mereka tersebar di 150 negara. Di Indonesia, pengidap AIDS/Virus HIV sendiri diperkirakan berjumlah sekitar 130 ribu jiwa. Sungguh lonjakan yang patut diseriusi, mengingat pada tahun 1994, sepuluh tahun lampau, angka pengidap virus HIV ini masih berkisar dibawah 300 jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia memang tidak sungguh-sungguh menutup mata terhadap virus mematikan ini.  Para negarawan, kaum cerdik-cendekia, selebritis, maupun atlet olahraga ikut mengkampanyekan bahaya AIDS setiap tahunnya.  WHO pernah mengembangkan program jaringan internasional untuk membendung pertumbuhan AIDS. Karena WHO dianggap hanya berkutat dengan penelitian saja, gerakan internasional perlawanan terhadap AIDS ini diambil alih oleh UNAIDS (1995). Kampanye, penelitian medis, program pembimbingan, dan setumpuk rencana lainnya telah dilaksanakan dan tengah dirancang untuk menaklukkan wabah kutukan itu, sejak jauh hari. Namun tahun ke tahun, jumlah mereka yang terjangkiti virus HIV ini tak pernah menunjukkan pengurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak keadaan itu, pada peringatan AIDS sedunia dengan tema “Women, Girls, HIV and AIDS” tahun ini, sepatutnya banyak pihak menyadari, bahwa selama ini : kita hanya memandangi Laut Mati. Hanya teraneh-aneh. Sebab mereka yang mandi, ciblon diatasnya, tidak pernah ada yang tenggelam. Para aktivis AIDS, selebritis yang ikut mengkampanyekan bahaya AIDS, kita, dan mereka yang merasa terkait dengan perlawanan terhadap merebaknya virus HIV ini harus menyadari bahwasanya AIDS takkan pernah bisa dilawan, jika kita masih bertingkah atau mendiamkan sikap atau perilaku sesama kita yang menyerupai perbuatan kaum ‘Aad.  Maka, perlawanan terhadap AIDSpun bukan hanya dengan seremoni atau doa bersama di gedung The Paris Opera Balet. Perlawanan terhadap penyakit terkutuk ini bukan hanya menekur bersama di depan makam Arthur Robert Ashe. Dan perlawanan terhadap AIDS ini bukan hanya dengan mengadakan konser mengenang Freddy Mercury, mengenakan pita merah di lengan baju, penyuluhan-penyuluhan keliling, atau anjuran menggunakan kondom. Perlawanan terhadap AIDS adalah perlawanan terhadap hawa nafsu, penyimpangan seks, juga pornografi/aksi yang menjadi pendorongnya. Dengan begitu, berarti kita tidak hanya memandangi laut mati.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10250864-110612811759832283?l=ruangbaca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangbaca.blogspot.com/feeds/110612811759832283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10250864&amp;postID=110612811759832283' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10250864/posts/default/110612811759832283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10250864/posts/default/110612811759832283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangbaca.blogspot.com/2005/01/hanya-memandang-laut-mati.html' title='Hanya Memandang Laut Mati &#x9;'/><author><name>aburashif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05923515274116876628</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v244/aburashif/aang2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
